Bedog Kala Petok Resmi Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI)

SUKABUMI — Kebanggaan kembali menghinggapi masyarakat Sukabumi. Senjata pusaka khas daerah, Bedog Kala Petok, secara resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Penetapan ini mengukuhkan keunggulan peradaban lokal, baik dari aspek fisik pusaka, teknologi penempaan tradisional, hingga nilai filosofis Islam yang terkandung di dalamnya.

Penetapan tersebut diumumkan setelah melalui proses kajian akademis yang mendalam serta pembuktian sejarah autentik. Direktur Warisan Budaya Ditjen Kebudayaan, Widiatmoko, menegaskan bahwa pengakuan ini menjadi bukti tingginya ilmu metalurgi dan peradaban Nusantara yang telah berkembang pesat.

Sejarah Masuk dan Perkembangan Bedog Kala Petok di Sukabumi

Perjalanan sejarah Bedog Kala Petok di Sukabumi dimulai ketika Raden Sumawinata membawa serta mulai membuat pusaka tersebut seiring kedatangannya di daerah Cikembang, Kabupaten Sukabumi, pada kisaran tahun 1930.

Perjuangan pelestarian ini kemudian dilanjutkan oleh putranya, Raden H. Adang Sabini, yang membawa Bedog Kala Petok ke Kota Sukabumi sekitar tahun 1960. Dari beliau, pusaka dan jurusnya diajarkan dalam latihan Pencak Silat Aliran Sang Maung Bodas kepada putranya, Rd. M. Fajar Laksana, yang kemudian terus merawat dan mengembangkannya hingga saat ini.

Secara teknis, Bedog Kala Petok dimainkan dalam jurus pencak silat aliran Sang Maung Bodas. Di masa perjuangan, senjata ini berfungsi sebagai senjata pamungkas untuk pertarungan jarak pendek ketika amunisi utama telah habis.

Hasil Riset BRIN dan Karakteristik Fisik

Riset ilmiah yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tahun 2024 mengungkap sejumlah fakta teknis mengenai Bedog Kala Petok yang tersimpan di Museum Prabu Siliwangi, Kota Sukabumi:

  • Spesifikasi Fisik: Memiliki panjang 24,5 cm, lebar 3,7 cm, ketebalan 1 cm, dengan kandungan unsur besi (Fe) mencapai 97,77%.
  • Bentuk Khas: Terdapat ceruk lengkungan unik pada bilah di dekat gagangnya.
  • Inskripsi Arab Pegon: Pada bilah senjata terukir aksara Arab Pegon bertuliskan “Kala Petok” yang secara paleografi diperkirakan berasal dari abad ke-19 (tahun 1800-an).

Nilai Filosofis dan Laku Spiritual Penempaan

Ditinjau dari sisi etimologi, kata Bedog bermakna senjata, Kala bermakna waktu atau ilmu, dan Petok bermakna dekat. Secara keseluruhan, Bedog Kala Petok mengandung filosofi mendalam sebagai “ilmu atau sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT”.

Proses pembuatannya pun sarat akan tradisi tirakat dan pembentukan karakter (tarbiyah):

  1. Laku Ibadah: Sang empu penempa diwajibkan berpuasa sunnah Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 Hijriah), hingga puasa tahunan di bulan Maulid.
  2. Penyucian Jiwa (Thaharah): Besi disucikan terlebih dahulu menggunakan air kelapa dan bunga sebagai simbol bahwa pembentukan pribadi unggul harus diawali dengan hati yang bersih (thaharah).
  3. Pembakaran & Penempaan: Pembakaran besi melambangkan peleburan sifat egois, sementara penempaan serta penyepuhan mencerminkan proses kedisiplinan dan keprihatinan dalam menempa diri hingga menjadi manusia yang bermanfaat.

Penetapan WBTbI ini diharapkan mampu mendorong pelestarian seni budaya lokal sekaligus menginspirasi generasi muda untuk terus menggali nilai-nilai luhur dan keislaman dari warisan sejarah Nusantara.

Sumber:

More Articles & Posts