
Sukabumi — Perguruan Silat (PS) Sang Maung Bodas terus menunjukkan komitmennya dalam melestarikan budaya bangsa dengan memperluas pengenalan seni bela diri pencak silat ke 43 sekolah di berbagai wilayah Jawa Barat.
Aliran Sang Maung Bodas merupakan kesenian pencak silat khas Sukabumi yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Provinsi Jawa Barat. Aliran ini tidak hanya menampilkan teknik bela diri, tetapi juga melahirkan beragam ekspresi budaya, seperti olahraga tradisional (oltrad) main boles atau lempar bola api, kesenian ngagotong lisung, serta jurus khas seperti Golok Kala Petok, Panca Kinanti, dan Maung Keubet.
Bahkan, olahraga tradisional boles telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTbI) oleh Kementerian Kebudayaan pada tahun 2024.
Guru Besar PS Sang Maung Bodas, K.H. Fajar Laksana, menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari arahan Kementerian Kebudayaan untuk memperkenalkan pencak silat kepada generasi muda.
“Kita diminta pihak Kementerian Kebudayaan untuk bisa tampil di 43 sekolah. Insya Allah di Sukabumi dan kota-kota lain,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).
Kegiatan ini dijadwalkan mulai pekan depan dan akan menyasar sekolah hingga perguruan tinggi di Jawa Barat. Menurutnya, pengenalan budaya lokal yang sarat nilai filosofis sangat penting di tengah derasnya arus globalisasi.
“Tujuannya pengembangan budaya lokal supaya kearifan lokal ini bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ungkapnya.
Selain sebagai upaya pelestarian budaya, pengembangan pencak silat Sang Maung Bodas juga diharapkan mampu mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah.
“Produk budaya ini akan meningkatkan wisata di daerah masing-masing. Wisatawan banyak maka akan meningkatkan ekonomi kreatif. Ujung-ujungnya meningkatkan PAD,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa pencak silat sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO harus terus dijaga eksistensinya melalui berbagai kegiatan nyata di masyarakat.
“Jangan sampai sudah ditetapkan sebagai warisan budaya, tetapi aktivitasnya tidak ada. Ini harus terus disosialisasikan agar tetap eksis di negeri sendiri,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Kota Sukabumi, Bobby Maulana, menyatakan dukungan penuh dari pemerintah daerah terhadap program tersebut melalui kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan.
Menurutnya, kemajuan teknologi digital harus dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan promosi budaya, khususnya kepada generasi muda.
“Ini kolaborasi yang baik untuk mempromosikan kebudayaan kepada generasi muda di 43 sekolah di Jawa Barat, agar mereka bisa ikut melestarikan baik sebagai pelaku maupun melalui literasi,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi berkembangnya aliran Sang Maung Bodas yang lahir dari Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath dan kini telah dikenal hingga tingkat internasional.
Lebih lanjut, pada bulan Mei mendatang, sejumlah pesilat dari berbagai negara seperti Italia dan Singapura dijadwalkan akan berkunjung ke Sukabumi untuk mempelajari langsung seni budaya tersebut.
Pemerintah Kota Sukabumi pun berencana mengintegrasikan potensi budaya ini dalam paket wisata terpadu, mulai dari pertunjukan seni, kunjungan edukatif, hingga kolaborasi dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Harapannya, ini bisa menjadi paket wisata seperti di daerah lain, sehingga mampu menarik wisatawan dan meningkatkan perekonomian masyarakat,” pungkasnya.
Sumber: koran-gala.id