
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenbud RI) mendorong santri untuk terjun berkarya dalam bentuk visual film.
Direktur Film, Musik, dan Seni Kemenbud RI, Syaifullah mengatakan, film dapat menjadi sarana efektif untuk mengenalkan dunia pesantren kepada masyarakat luas.

Sifat film yang tak lekang oleh waktu yang terus terabadikan, dapat menjangkau audiens yang lebih luas. Sehingga film dapat menjadi medium yang efektif untuk berdakwah.
“Kalau kita dakwah (langsung), 300 orang itu sudah hebat. Tapi kalau melalui konten film, jutaan orang bisa melihat dan itu akan menetap selamanya. Ini penting agar kita bisa memberitakan hal positif tentang Islam,” kata Syaifullah di Ponpes Dzikir Al Fath Kota Sukabumi, Sabtu 31 Januari 2026.
Keseriusan Kemenbud dalam mendorong santri untuk terjun menjadpendekmaker sudah dilakukan dengan menyediakan program seperti Santri Film Festival (Sanfest) dan Layar Indonesiana untuk melatih penulisan skenario serta pembuatan film pendek bagi.
“Kita di Kementerian Kebudayaan, film itu menjadi salah satu bagian yang paling penting karena merekam jejak kebudayaan. Dan kita punya Sanfest (santri film festival) dan kita punya Layar Indonesiana bagaimana mendorong atau melatih teman-teman untuk menulis skenario terus kemudian membuat film pendek,” ujarnya.
Salah satu materi potensial yang dapat dijadikan film dokumenter menurutnya adalah rekam jejak Pimpinan Ponpes Dzikir Al-Fath, KH Fajar Laksana.
Syaifullah mengaku kagum atas perjuangan sang kiai yang berdakwah hingga ke Pulau Buru, Maluku di kawasan terpencil (3T) yang minim sinyal, listrik, dan akses transportasi sulit.
“Beliau sukses mendorong banyak mualaf di sana meski tantangannya luar biasa. Perjalanan 9 jam naik kapal dengan budaya yang berbeda. Jika cerita ini didokumentasikan dalam bentuk film, tentu akan sangat menginspirasi karakter bangsa,” tambahnya.
Aktor Adi Bing Slamet menyampaikan hal senada dengan Syaifullah. Menurutnya, Ponpes Dzikir Al-Fath sudah memiliki ekosistem yang sangat lengkap untuk diolah dalam bentuk film.
“Budayanya dapat, ilmu agamanya dapat, dan sekarang menyentuh program inkonvensional seperti film. Sangat bagus jika syiar Pak Kiai ke daerah yang belum tersentuh itu dijadikan dokumenter,” kata Adi.
Menanggapi dukungan tersebut, Pimpinan Ponpes Dzikir Al Fath KH Fajar Laksana menyambut baik rencana pelatihan pembuatan film bagi para santrinya.
Menurutnya, teknologi saat ini sudah sangat memudahkan, di mana karya berkualitas bisa lahir hanya dari sebuah smartphone.
“Oleh karena itu maka tadi ada kesepakatan insyaallah akan memberikan pelatihan-pelatihan untuk santri kita dan InsyaAllah kita diminta juga harus ada divisi khusus untuk membuat film-film, konten-konten, membuat media dakwah yang profesional,” jelas KH Fajar Laksana.
Dia berharap, melalui dokumentasi yang baik, karya-karya dan rekam jejak pesantren dapat terpublikasi secara luas dan menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat untuk terus berbuat kebaikan.***
Sumber artikel : https://www.koran-gala.id/news/58716648764/kemenbud-ajak-santri-jadi-sineas-jadikan-film-media-dakwah-yang-tak-lekang-waktu?page=2